Rabu, 27 April 2016



Mianhae
Berapa lama kita akan bersahabat ?
Aku berpikir….
Selama bintang bersinar dilangit ?
Atau laut yang akan habis airnya ?
Aku tak berharap untuk menjadi orang yang terpenting dalam hidupmu….
Aku hanya berharap suatu hari jika kau mendengar namaku kamu tersenyum, kemudian berkata :
“ DIA ADALAH SAHABAT BAIKKU”

            Berpikir akan jadi apa aku ini. Masa bodo dengan yang namanya hidup. Hidup itu tidak adil untukku. Hidup sudah merebut apa yang harusnya menjadi milikku dan hidup juga yang telah membuatku lari dari semua ini. Aku sudah tak berhasrat menjalani hidup. Untukku, hidup hanya sekedar aku hidup. Tidak ada yang dapat kuperbuat. Aku hidup dan sedikit berharap tentang sebuah harapan yang mungkin untukku tak akan ada. Aku hidup untuk tak memikirkan apapun. Dan aku tetap ingin tak menyadarinya. Ku anggap kenyataan yang terjadi hanyalah sebuah kesalahan yang harus aku jalani.
            Semuanya sudah tak berjalan sejak 16 Desember 2009. Setidaknya, sebelum kejadian itu terjadi, aku memiliki kenangan yang membuatku bersemangat menjalani hidup. Hidup bagiku seperti surga yang membawaku dalam sebuah kebahagiaan melalui kesederhanaan. Sahabatku yang membuat dunia ini nikmat seperti surga dan dia adalah Danna Ranaya Irawan. Hanya saja, karena aku egois dalam menjalani hidup, pelan-pelan aku menjauhi Danna, Danna yang tersakiti, dan Danna yang kini menganggapku mungkin hanya sepenggal kenangan yang pernah Danna lakukan denganku.
            Aku berpikir baik tentang semua yang terjadi antara aku dan Danna. Dengan begini jalan persabatan antara aku dan Danna akan semakin erat dan kembali terjalin suatu hari nanti. Aku pernah membicarakan semua ini kepada pendengar abadi “Tuhan.. aku berharap dimasa depan akan ada generasi persahabatan yang terjalin utuh kembali entah anak atau cucuku bersama dengan generasi Danna”.
            Berpisahnya kami membuat aku dan dan Danna menjalani hidup masing-masing tanpa adanya kebersamaan yang terjalin. Semuanya berakhir tanpa ada yang tersisa untuk diselesaikan. Tapi, dengan cara seperti ini pula, aku menyimpan cerita dan kenangan yang pernah terjadi. Aku dan Danna memang satu paket. Tapi dalam menjalani hidup, kita punya jalannya masing-masing.
                                                ****                                        ****
            Hari ini adalah tepat tiga tahun aku dan Danna sudah menjadi sahabat yang asing. Tak peduli lagi satu sama lain. Jangankan untuk peduli, berkomunikasi adalah hal yang tabu dan harapan sia-sia. Akan tetapi, dalam waktu tiga tahun ini, sehari dalam hidupku tak pernah aku lupa tentang Danna dan semua kenangan yang pernah aku perbuat dengan Danna.
“Woi ngelamun aja” suara cempreng milik Tirta yang khas.
“Ashh lu ngagetin gue aja Ta’” ucapku kesal
“kapan lu mau lupa tentang Danna Da’?” Tanya Tirta dengan sorotan mata yang sayu
“Gue ngga tau Ta” jawabku dengan suara yang tertahankan.
Seperti biasa jika sudah membicarakan tentang Danna, Tirta memelukku dengan hangat. Aku dan Tirta berteman dua tahun yang lalu. Aku menceritakan semua tentang hidupku terutama tentang aku dan Danna. Mungkin itu yang membuat Tirta selalu memelukku jika suatu topic pembicaraan kami menyangkut tentang Danna.
            Banyak kenangan yang tersimpan dihati ini tentang sosok Danna. Entah dimana Danna sekarang berada. Entah dengan siapa Danna berdampingan. Yang jelas seorang Danna Ranaya Irawan akan selalu berpaket dengan Rinda Setiya Wulandari yaitu aku sendiri.
                                                ****                                        ****
            Malam ini suara hujan berebut turun untuk aku dengarkan. Sama seperti yang lalu. Setiap suara hujan turun aku selalu menjadi sosok yang rapuh tanpa adanya gairah untuk sesuatu hal bahkan hal paling aku senangi. Suara hujan mengingatkanku tentang pertemuanku dengan Danna untuk yang terakhir kali tanpa aku tahu dan aku inginkan.
“Na’..  nanti malem minggu dateng kerumah gue ya”
“Sorry Da’, gue ada janji bareng Nafa”
“ouh”
Mendengar jawaban yang seperti itu, aku tahu mungkin sekarang Danna lebih condong ke Nafa dari pada aku sahabatnya sendiri. Dilain sisi aku bahagia karena Danna mendapatkan orang yang mencintainya tanpa perlu untuk membuat Danna berubah. Dilain sisi  pula aku sedih karena waktu untukku sebagai sahabat sedikit demi sedikit mulai tersingkir dan digantikan oleh Nafa.
            Mengingat Danna, secara tak langsung pula aku mengingat kenanganku bersama Nafa yang mungkin terjalin tak harmonis. Aku mendukung hubungan Danna dengan Nafa. Hanya saja, Nafa tidak mendukung persahabatan yang terjalin antara aku dan Danna. Diam-diam Nafa menyuruhku untuk menjaga jarak dengan Danna, kemudian menanyakan apakah aku mencintai Danna dan mempermasalahkan persahabatanku dengan Danna. Jujur, dengan semua yang dilakukan oleh Nafa terhadapku dengan berkaitan dengan Danna, aku merasa terganggu,sedih dan bingung. Aku ingin sekali membicarakan semua ini dengan Danna. Tapi rasa sayangku sebagai sahabat Danna membuatku bertahan dan tetap terus menyembunyikannya sampai saat ini.
            Sedih yang aku rasakan jika aku harus menjaga jarak dengan Danna. Bagaimanapun dengan menjaga jarak berarti secara tak langsung aku menjauhinya. Aku tak menginginkan hal itu. Akan tetapi, jika aku tak menjauhi Danna, aku takut disaat Danna benar-benar mencintai Nafa, Nafa meninggalkan Danna dengan alasan yang sangkut pautnya denganku. Aku tak mau semua itu terjadi. Aku tak mau melihat Danna sedih lebih dari siapapun.
            Dengan permintaan Nafa, aku mencoba menjauhi Danna perlahan-lahan. Satu hari dua hari dan seterusnya aku bersikap dingin dan acuh seakan tak peduli semua tentang Danna. Bukan aku yang menginginkan semua ini. Rasa takutku yang memaksakan aku bersikap seperti itu. Tidak ada didunia ini seorang sahabat yang tidak peduli terhadap sahabatnya sendiri. Ketika aku bersikap seperti itu, lambat laun Danna mulai kesal dan membalas sikap terhadapku. Danna mengatakan sudah tak mengenalku lagi. Seakan hatiku tersambar petir mendengar ucapan Danna yang diberikan kepadaku. Aku sudah tak mampu untuk berucap apa yang sebenarnya ingin aku katakan. Ketika Danna sudah tak mengenalku, ingin sekali aku menjelaskan semua ini. Bagaimana Nafa menyuruhku. Bagaimana Nafa tak menyukaiku dan bagaimana Nafa tidak mendukung persahabatan kita. Ingin sekali aku menjelaskan semua itu.
            Sampai saat ini pun aku masih belum bisa menjelaskan semua kisah yang kenyataanya belum terselesaikan antara aku dan Danna. Dan sampai saat ini pula aku masih menganggap Danna adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki. Hanya karena hatiku yang egois untuk menjalani hidup dan berpangkat sebagai sahabat Danna, aku menghancurkan semua surga yang pernah kita buat. Aku memecah hati kita yang sudah terjalin sangat lama. Dan aku yang masih terlingkupi rasa takut untuk bertemu jika Tuhan mempertemukan aku dan Danna kembali. Jika Tuhan mempertemukan aku dan Danna.Satu kalimat yang pertama kali aku ucapkan “Maaf dan terimakasih untuk semua kenangan yang terjadi dalam hidupku  Na’. Sahabat terbaikku”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar