Mianhae
Berapa
lama kita akan bersahabat ?
Aku
berpikir….
Selama
bintang bersinar dilangit ?
Atau
laut yang akan habis airnya ?
Aku
tak berharap untuk menjadi orang yang terpenting dalam hidupmu….
Aku hanya berharap suatu hari jika
kau mendengar namaku kamu tersenyum, kemudian berkata :
“
DIA ADALAH SAHABAT BAIKKU”
Berpikir
akan jadi apa aku ini. Masa bodo dengan yang namanya hidup. Hidup itu tidak
adil untukku. Hidup sudah merebut apa yang harusnya menjadi milikku dan hidup
juga yang telah membuatku lari dari semua ini. Aku sudah tak berhasrat
menjalani hidup. Untukku, hidup hanya sekedar aku hidup. Tidak ada yang dapat
kuperbuat. Aku hidup dan sedikit berharap tentang sebuah harapan yang mungkin
untukku tak akan ada. Aku hidup untuk tak memikirkan apapun. Dan aku tetap
ingin tak menyadarinya. Ku anggap kenyataan yang terjadi hanyalah sebuah
kesalahan yang harus aku jalani.
Semuanya
sudah tak berjalan sejak 16 Desember 2009. Setidaknya, sebelum kejadian itu
terjadi, aku memiliki kenangan yang membuatku bersemangat menjalani hidup.
Hidup bagiku seperti surga yang membawaku dalam sebuah kebahagiaan melalui
kesederhanaan. Sahabatku yang membuat dunia ini nikmat seperti surga dan dia
adalah Danna Ranaya Irawan. Hanya saja, karena aku egois dalam menjalani hidup,
pelan-pelan aku menjauhi Danna, Danna yang tersakiti, dan Danna yang kini
menganggapku mungkin hanya sepenggal kenangan yang pernah Danna lakukan
denganku.
Aku
berpikir baik tentang semua yang terjadi antara aku dan Danna. Dengan begini
jalan persabatan antara aku dan Danna akan semakin erat dan kembali terjalin
suatu hari nanti. Aku pernah membicarakan semua ini kepada pendengar abadi
“Tuhan.. aku berharap dimasa depan akan ada generasi persahabatan yang terjalin
utuh kembali entah anak atau cucuku bersama dengan generasi Danna”.
Berpisahnya
kami membuat aku dan dan Danna menjalani hidup masing-masing tanpa adanya
kebersamaan yang terjalin. Semuanya berakhir tanpa ada yang tersisa untuk
diselesaikan. Tapi, dengan cara seperti ini pula, aku menyimpan cerita dan
kenangan yang pernah terjadi. Aku dan Danna memang satu paket. Tapi dalam
menjalani hidup, kita punya jalannya masing-masing.
**** ****
Hari
ini adalah tepat tiga tahun aku dan Danna sudah menjadi sahabat yang asing. Tak
peduli lagi satu sama lain. Jangankan untuk peduli, berkomunikasi adalah hal
yang tabu dan harapan sia-sia. Akan tetapi, dalam waktu tiga tahun ini, sehari
dalam hidupku tak pernah aku lupa tentang Danna dan semua kenangan yang pernah
aku perbuat dengan Danna.
“Woi ngelamun aja” suara cempreng milik
Tirta yang khas.
“Ashh lu ngagetin gue aja Ta’” ucapku
kesal
“kapan lu mau lupa tentang Danna Da’?”
Tanya Tirta dengan sorotan mata yang sayu
“Gue ngga tau Ta” jawabku dengan suara
yang tertahankan.
Seperti biasa jika sudah membicarakan
tentang Danna, Tirta memelukku dengan hangat. Aku dan Tirta berteman dua tahun
yang lalu. Aku menceritakan semua tentang hidupku terutama tentang aku dan
Danna. Mungkin itu yang membuat Tirta selalu memelukku jika suatu topic
pembicaraan kami menyangkut tentang Danna.
Banyak
kenangan yang tersimpan dihati ini tentang sosok Danna. Entah dimana Danna
sekarang berada. Entah dengan siapa Danna berdampingan. Yang jelas seorang
Danna Ranaya Irawan akan selalu berpaket dengan Rinda Setiya Wulandari yaitu
aku sendiri.
**** ****
Malam
ini suara hujan berebut turun untuk aku dengarkan. Sama seperti yang lalu.
Setiap suara hujan turun aku selalu menjadi sosok yang rapuh tanpa adanya
gairah untuk sesuatu hal bahkan hal paling aku senangi. Suara hujan
mengingatkanku tentang pertemuanku dengan Danna untuk yang terakhir kali tanpa
aku tahu dan aku inginkan.
“Na’..
nanti malem minggu dateng kerumah gue ya”
“Sorry Da’, gue ada janji bareng Nafa”
“ouh”
Mendengar jawaban yang seperti itu, aku
tahu mungkin sekarang Danna lebih condong ke Nafa dari pada aku sahabatnya
sendiri. Dilain sisi aku bahagia karena Danna mendapatkan orang yang
mencintainya tanpa perlu untuk membuat Danna berubah. Dilain sisi pula aku sedih karena waktu untukku sebagai
sahabat sedikit demi sedikit mulai tersingkir dan digantikan oleh Nafa.
Mengingat
Danna, secara tak langsung pula aku mengingat kenanganku bersama Nafa yang
mungkin terjalin tak harmonis. Aku mendukung hubungan Danna dengan Nafa. Hanya
saja, Nafa tidak mendukung persahabatan yang terjalin antara aku dan Danna.
Diam-diam Nafa menyuruhku untuk menjaga jarak dengan Danna, kemudian menanyakan
apakah aku mencintai Danna dan mempermasalahkan persahabatanku dengan Danna.
Jujur, dengan semua yang dilakukan oleh Nafa terhadapku dengan berkaitan dengan
Danna, aku merasa terganggu,sedih dan bingung. Aku ingin sekali membicarakan
semua ini dengan Danna. Tapi rasa sayangku sebagai sahabat Danna membuatku
bertahan dan tetap terus menyembunyikannya sampai saat ini.
Sedih
yang aku rasakan jika aku harus menjaga jarak dengan Danna. Bagaimanapun dengan
menjaga jarak berarti secara tak langsung aku menjauhinya. Aku tak menginginkan
hal itu. Akan tetapi, jika aku tak menjauhi Danna, aku takut disaat Danna benar-benar
mencintai Nafa, Nafa meninggalkan Danna dengan alasan yang sangkut pautnya
denganku. Aku tak mau semua itu terjadi. Aku tak mau melihat Danna sedih lebih
dari siapapun.
Dengan
permintaan Nafa, aku mencoba menjauhi Danna perlahan-lahan. Satu hari dua hari
dan seterusnya aku bersikap dingin dan acuh seakan tak peduli semua tentang
Danna. Bukan aku yang menginginkan semua ini. Rasa takutku yang memaksakan aku
bersikap seperti itu. Tidak ada didunia ini seorang sahabat yang tidak peduli
terhadap sahabatnya sendiri. Ketika aku bersikap seperti itu, lambat laun Danna
mulai kesal dan membalas sikap terhadapku. Danna mengatakan sudah tak
mengenalku lagi. Seakan hatiku tersambar petir mendengar ucapan Danna yang
diberikan kepadaku. Aku sudah tak mampu untuk berucap apa yang sebenarnya ingin
aku katakan. Ketika Danna sudah tak mengenalku, ingin sekali aku menjelaskan
semua ini. Bagaimana Nafa menyuruhku. Bagaimana Nafa tak menyukaiku dan
bagaimana Nafa tidak mendukung persahabatan kita. Ingin sekali aku menjelaskan
semua itu.
Sampai
saat ini pun aku masih belum bisa menjelaskan semua kisah yang kenyataanya
belum terselesaikan antara aku dan Danna. Dan sampai saat ini pula aku masih
menganggap Danna adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki. Hanya karena hatiku
yang egois untuk menjalani hidup dan berpangkat sebagai sahabat Danna, aku
menghancurkan semua surga yang pernah kita buat. Aku memecah hati kita yang
sudah terjalin sangat lama. Dan aku yang masih terlingkupi rasa takut untuk bertemu
jika Tuhan mempertemukan aku dan Danna kembali. Jika Tuhan mempertemukan aku
dan Danna.Satu kalimat yang pertama kali aku ucapkan “Maaf dan terimakasih
untuk semua kenangan yang terjadi dalam hidupku Na’. Sahabat terbaikku”