Rabu, 27 April 2016



Mianhae
Berapa lama kita akan bersahabat ?
Aku berpikir….
Selama bintang bersinar dilangit ?
Atau laut yang akan habis airnya ?
Aku tak berharap untuk menjadi orang yang terpenting dalam hidupmu….
Aku hanya berharap suatu hari jika kau mendengar namaku kamu tersenyum, kemudian berkata :
“ DIA ADALAH SAHABAT BAIKKU”

            Berpikir akan jadi apa aku ini. Masa bodo dengan yang namanya hidup. Hidup itu tidak adil untukku. Hidup sudah merebut apa yang harusnya menjadi milikku dan hidup juga yang telah membuatku lari dari semua ini. Aku sudah tak berhasrat menjalani hidup. Untukku, hidup hanya sekedar aku hidup. Tidak ada yang dapat kuperbuat. Aku hidup dan sedikit berharap tentang sebuah harapan yang mungkin untukku tak akan ada. Aku hidup untuk tak memikirkan apapun. Dan aku tetap ingin tak menyadarinya. Ku anggap kenyataan yang terjadi hanyalah sebuah kesalahan yang harus aku jalani.
            Semuanya sudah tak berjalan sejak 16 Desember 2009. Setidaknya, sebelum kejadian itu terjadi, aku memiliki kenangan yang membuatku bersemangat menjalani hidup. Hidup bagiku seperti surga yang membawaku dalam sebuah kebahagiaan melalui kesederhanaan. Sahabatku yang membuat dunia ini nikmat seperti surga dan dia adalah Danna Ranaya Irawan. Hanya saja, karena aku egois dalam menjalani hidup, pelan-pelan aku menjauhi Danna, Danna yang tersakiti, dan Danna yang kini menganggapku mungkin hanya sepenggal kenangan yang pernah Danna lakukan denganku.
            Aku berpikir baik tentang semua yang terjadi antara aku dan Danna. Dengan begini jalan persabatan antara aku dan Danna akan semakin erat dan kembali terjalin suatu hari nanti. Aku pernah membicarakan semua ini kepada pendengar abadi “Tuhan.. aku berharap dimasa depan akan ada generasi persahabatan yang terjalin utuh kembali entah anak atau cucuku bersama dengan generasi Danna”.
            Berpisahnya kami membuat aku dan dan Danna menjalani hidup masing-masing tanpa adanya kebersamaan yang terjalin. Semuanya berakhir tanpa ada yang tersisa untuk diselesaikan. Tapi, dengan cara seperti ini pula, aku menyimpan cerita dan kenangan yang pernah terjadi. Aku dan Danna memang satu paket. Tapi dalam menjalani hidup, kita punya jalannya masing-masing.
                                                ****                                        ****
            Hari ini adalah tepat tiga tahun aku dan Danna sudah menjadi sahabat yang asing. Tak peduli lagi satu sama lain. Jangankan untuk peduli, berkomunikasi adalah hal yang tabu dan harapan sia-sia. Akan tetapi, dalam waktu tiga tahun ini, sehari dalam hidupku tak pernah aku lupa tentang Danna dan semua kenangan yang pernah aku perbuat dengan Danna.
“Woi ngelamun aja” suara cempreng milik Tirta yang khas.
“Ashh lu ngagetin gue aja Ta’” ucapku kesal
“kapan lu mau lupa tentang Danna Da’?” Tanya Tirta dengan sorotan mata yang sayu
“Gue ngga tau Ta” jawabku dengan suara yang tertahankan.
Seperti biasa jika sudah membicarakan tentang Danna, Tirta memelukku dengan hangat. Aku dan Tirta berteman dua tahun yang lalu. Aku menceritakan semua tentang hidupku terutama tentang aku dan Danna. Mungkin itu yang membuat Tirta selalu memelukku jika suatu topic pembicaraan kami menyangkut tentang Danna.
            Banyak kenangan yang tersimpan dihati ini tentang sosok Danna. Entah dimana Danna sekarang berada. Entah dengan siapa Danna berdampingan. Yang jelas seorang Danna Ranaya Irawan akan selalu berpaket dengan Rinda Setiya Wulandari yaitu aku sendiri.
                                                ****                                        ****
            Malam ini suara hujan berebut turun untuk aku dengarkan. Sama seperti yang lalu. Setiap suara hujan turun aku selalu menjadi sosok yang rapuh tanpa adanya gairah untuk sesuatu hal bahkan hal paling aku senangi. Suara hujan mengingatkanku tentang pertemuanku dengan Danna untuk yang terakhir kali tanpa aku tahu dan aku inginkan.
“Na’..  nanti malem minggu dateng kerumah gue ya”
“Sorry Da’, gue ada janji bareng Nafa”
“ouh”
Mendengar jawaban yang seperti itu, aku tahu mungkin sekarang Danna lebih condong ke Nafa dari pada aku sahabatnya sendiri. Dilain sisi aku bahagia karena Danna mendapatkan orang yang mencintainya tanpa perlu untuk membuat Danna berubah. Dilain sisi  pula aku sedih karena waktu untukku sebagai sahabat sedikit demi sedikit mulai tersingkir dan digantikan oleh Nafa.
            Mengingat Danna, secara tak langsung pula aku mengingat kenanganku bersama Nafa yang mungkin terjalin tak harmonis. Aku mendukung hubungan Danna dengan Nafa. Hanya saja, Nafa tidak mendukung persahabatan yang terjalin antara aku dan Danna. Diam-diam Nafa menyuruhku untuk menjaga jarak dengan Danna, kemudian menanyakan apakah aku mencintai Danna dan mempermasalahkan persahabatanku dengan Danna. Jujur, dengan semua yang dilakukan oleh Nafa terhadapku dengan berkaitan dengan Danna, aku merasa terganggu,sedih dan bingung. Aku ingin sekali membicarakan semua ini dengan Danna. Tapi rasa sayangku sebagai sahabat Danna membuatku bertahan dan tetap terus menyembunyikannya sampai saat ini.
            Sedih yang aku rasakan jika aku harus menjaga jarak dengan Danna. Bagaimanapun dengan menjaga jarak berarti secara tak langsung aku menjauhinya. Aku tak menginginkan hal itu. Akan tetapi, jika aku tak menjauhi Danna, aku takut disaat Danna benar-benar mencintai Nafa, Nafa meninggalkan Danna dengan alasan yang sangkut pautnya denganku. Aku tak mau semua itu terjadi. Aku tak mau melihat Danna sedih lebih dari siapapun.
            Dengan permintaan Nafa, aku mencoba menjauhi Danna perlahan-lahan. Satu hari dua hari dan seterusnya aku bersikap dingin dan acuh seakan tak peduli semua tentang Danna. Bukan aku yang menginginkan semua ini. Rasa takutku yang memaksakan aku bersikap seperti itu. Tidak ada didunia ini seorang sahabat yang tidak peduli terhadap sahabatnya sendiri. Ketika aku bersikap seperti itu, lambat laun Danna mulai kesal dan membalas sikap terhadapku. Danna mengatakan sudah tak mengenalku lagi. Seakan hatiku tersambar petir mendengar ucapan Danna yang diberikan kepadaku. Aku sudah tak mampu untuk berucap apa yang sebenarnya ingin aku katakan. Ketika Danna sudah tak mengenalku, ingin sekali aku menjelaskan semua ini. Bagaimana Nafa menyuruhku. Bagaimana Nafa tak menyukaiku dan bagaimana Nafa tidak mendukung persahabatan kita. Ingin sekali aku menjelaskan semua itu.
            Sampai saat ini pun aku masih belum bisa menjelaskan semua kisah yang kenyataanya belum terselesaikan antara aku dan Danna. Dan sampai saat ini pula aku masih menganggap Danna adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki. Hanya karena hatiku yang egois untuk menjalani hidup dan berpangkat sebagai sahabat Danna, aku menghancurkan semua surga yang pernah kita buat. Aku memecah hati kita yang sudah terjalin sangat lama. Dan aku yang masih terlingkupi rasa takut untuk bertemu jika Tuhan mempertemukan aku dan Danna kembali. Jika Tuhan mempertemukan aku dan Danna.Satu kalimat yang pertama kali aku ucapkan “Maaf dan terimakasih untuk semua kenangan yang terjadi dalam hidupku  Na’. Sahabat terbaikku”



Hilang
            Otak juga tau kejadian apa yang harus diingat dan kejadian yang tak seharusnya diingat. Hal kayak gue yang selalu mengingat lo sampai saat ini. Entah sekarang lo dimana, sedang apa dan dengan siapa. Selalu itu yang ingin gue tau dari lo.
            Dari dulu gue selalu siap jika tiba-tiba lo ninggalin gue disini. Tapi, kesiapan gue ternyata belum siap dengan hati gue.  Gue masih saja merasa kehilangan sebagian hidup gue tanpa lo. Gue emang mempunyai mereka, hanya saja mereka tak sama kaya lo yang selalu menerima kekukarangan gue apa adanya meski dalam diri gue tak mempunyai kelebihan sedikitpun.  Gue rasa kehilangan sesuatu yang nyaris ngga bisa gue rangkai dalam setiap kata-kata yang ada.
             Masih gue inget gimana lo yang nemuin gue dalam sesegukan tangisan yang ngga bisa gue tahan. Gue  malu, gue malu kalo lo nemuin gue jadi orang yang lemah. Gue  ingin jadi orang yang terkuat buat orang yang gue sayang termasuk lo.
            Harusnya gue tau kalo gue hanya bisa bareng lo tapi gue ngga bisa milikin lo. Gue mati rasa bersama yang lain. Jika gue kembali mengingat masa lalu bareng lo, sesak yang gue rasain tapi ngebuat hati gue hangat.
            Lo yang pernah ngomong kalo  selalu ada sahabat yang siap berbagi kesedihan, tapi gue ngga siap kalo gue harus membagi kesedihan ini bareng lo. Sulit, bahkan sangat sulit buat gue ngomong tetaplah disini bareng gue, jangan dengan yang lain. Gue disini masih ngebutuhin lo jadi sandaran buat gue dan hati gue.
            Sebenarnya hati ini enggan ngeliat lo bareng pemeran baru buat hati lo. Sedih, itu yang gue rasain kalo gue ngeliat lo bisa ngebaca perasaan cinta yang lain, tapi ngga bisa ngebaca perasaan gue. Berapa lama lagi gue harus nunggu lo, empat tahun, lima tahun, atau sepuluh tahun lagi gue harus nunggu lo buat ngedapatin cinta lo. Kebohongan  semata kalo gue ngomong  mencintai yang lain, selama ini gue harus mencari pelarian cinta disaat gue ngedapetin cinta yang lain. Memang lucu, tapi dengan begitu hati gue bisa terbagi agar ngga larut buat nahan rasa sesak dalam hati.
“Sil, ngapain lo bengong kaya sapi ompong?”
Mendengar suara yang sempat bikin gue kaget sekaligus menjadikan lamunan gue buyar entah berantah kemana pergi.
“kambing lo, ngagetin gue mulu. Kalo gue jantungan gimana, mau lo tanggung jawab?”
“yah sorry. Gue liat lo asyik banget ngelamun, bikin gue penasaran aja. Ngelamunin apasih?” rajuk Wira
“dilarang kepo !”
Sejenak gue lihat ekspresi yang Wira lakukan, yaitu memanyunkan bibirnya.
            Setelah sibuk berkutat ucapan dengan Wira, iyah itu nama yang sering gue sebut Wira Bima Nasution. gue kembali dengan ingatan masa lalu gue bareng lo dan gue ngga peduli orang lain yang ada disisi gue sekarang. Yang gue tau sampai kapanpun gue akan terus merindukan lo tepat disini yah hati gue, sambil gue peluk erat lutut gue.
Tanpa gue sadari, ada yang memeluk gue dari belakang.
“gue tahu Sil apa yang lo rasain. Lo pasti kangen banget sama Dimas kan?”
Gue ngga bisa jawab dengan  kata-kata,  gue cuma menganggukan kepala.
                                                ****                                        ****

            Setelah kejadian itu, Wira belum berkunjung kerumah gue selama seminggu ini. Ada apa dengan dia, apakah dia tak enak badan pikir gue
            Karena rasa khawatir gue lebih gede ketimbang sama perasaan gue sama Wira, gue nemuin dia dirumah. Dengan langkah cepat gue datengin Wira dirumahnya,dan tepat Wira ada dikamarnya.
“Wira,ini gue Prisil gue boleh masuk?” ucap gue setelah ngetuk pintu kamar Wira
“masuk aja !”
            Gue masuk. Ngebuka pintu,  gue kaget dengan apa yang terjadi dengan pemandangan di depan gue.
“Sil,  gue udah mirip Dimas belum ?” Tanya Wira
Gue ngga jawab, tanpa gue sadar gue nangis. Wira nyamperin gue dan dia meluk gue.
“sorry Sil. Gue pengen ngegantiin Dimas buat lo. Gue ngga mau ngeliat lo yang terus-terusan nginget dia. Padahal dia udah ngga ma lo dan ninggalin lo” ucap Wira terdengar lirih.
Tanpa gue jawab, gue bales pelukan Wira dengan erat. Hangat itu yang gue rasain saat gue meluk tubuh Wira. Makasih Wira, lo udah berusaha ngga bikin gue buat sedih. Maap juga, gue ngga bisa nerima kehadiran lo sebagai Dimas. Dimas yah Dimas sedangkan Wira yah Wira dan ngga ada satu diantara kalian sifat yang sama. Saat pikiran itu hadir di otak gue, gue sadar kalo secara ngga langsung gue nyari sosok Dimas dalam diri Wira. Maap Wira, ngga seharusnya gue ngelakuin itu ke lo. Gue sadar kalo gue masih ada di masa lalu sedangkan lo di masa depan. Gue belum sepenuhnya hidup dimana tempat lo Hidup Wira. Bayangan gue masih ada di masa lalu. Maap, gue berusaha sayang sama lo tapi semua itu ngga cukup buat gue ngilangin Dimas dalam pikiran dan hati gue.

Thanks buat baca cerpen hasil karya gue ..

Senin, 25 April 2016



ketika kita berbicara tentang cinta semua itu tidak akan habisnya. sampai kapanpun itu


STORY 1
(FIRST LOVE)

 lonceng teriak. Suara itu yang gue sama temen – temen  tunggu, suara lonceng manggil gue buat istirahat, bukan gue doang yang istirahat temen gue juga. Waktu gue keluar kelas, yang gue liat Cuma orang keliaran dari kelas satu ke kelas lain, dari kelas ke kantin, dan ada kebalikannya yang tadi dari kelas ke kantin yang ini dari kantin baru masuk ke kelas alias  bolos. Kaya kambing baru di kasih makan, bawa  - bawa sisa makanan yang masih nyantol di mulut, sambil jalan balik ke kandang.
Kenalin gue Damar  kelas XI IPA 1, gue suka ngomong ke temen – temen gue kalo mereka galau, tapi kenyataannya gue yang selalu galau. Entah mikirin apa, siapa kenapa ??, pokoknya galau... tenang bro tapi ini bukan cerita galau. eh ntar dulu, galau kayanya deh. Ini cerita, cerita gue dulu smp.
Dulu gue smp masuk kelas VIII B, menurut orang kelas yang rata – rata di atas itu orang nya pinter, bener. Contohnya kelas A dan B, tapi kenyataannya kelas gue ANCUR...!!!.  Tau gak dulu gue anggota pramuka di smp, bahkan sampe jadi ketua osis. Di liat dari apanya juga gue jadi ketua osis. Bener enggak, gila dikit, ganteng ?? rata – ratalah. Tapi ini buakan cerita pengalaman organisasi gue tapi pengalaman pertama kali gue suka sama cewe.
Berawal dari kebiasaan gue dulu, waktu istirahat gue masuk dari kelas satu ke kelas lain gue telususri. Dari kelas A sampe kelas H, dari Merak sampe bakauhuni, bahkan sampe plosok Wc gue masuk. Tapi ada satu kelas yaitu kelas VIII E di kelas itu gue kenal sama cewe yang dulu gue suka. Waktu itu gue masuk kelas tujuannya buat ngomongin masalah organisasi sama temen gue namanya Nia, orangnya cerewet, mulutnya kaya toa masjid, suaranya berisik kaya klakson trek troonton, tapi gue suka sama kerjanya cepet tapi tetep suaranya berisik. Waktu gue ngomong sama Nia, entah apa, angin apa yang bisa ngerubah pandangan mata gue sampe – sampe gue ngeliat cewe yang duduk di bangku ke tiga di pojok. Gue gak pernah ngeliat cewe itu, sama sekali enggak sumpah dah. Dari pada penasaran gue tanya sama temen gue yang berisik ini.
 “he, sapa tuh ??” sambil nunjuk cewe tadi sama ujung bibir biar cewe itu gk tau gue kepo pengen tau dia.
“mana, itu ??” sambil  nunjuk orangnya..
“ iyah, itu temen lo??” kepo dikit.
“ bukan !!, iyah temen lah kan gue sekelas sama dia” sambil nengulin kepala gue.
“kok gue baru liat, pindahan ??” keponya meningkat.
“enggak, mantan kelas tujuh F” jawab sambil sibuk sendiri bikin pengumuman buat pramuka nanti siang.
“namanya??” makin kepo gue.
“Fitri, suka??” balik tanya.
“enggak, gue baru liat ajah.”jawab gue, sambil senyum sendiri kaya baru liat topeng monyet.
Semenjak itu gue betah ke kelas Nia, dan semenjak itu gue betah mandangin wajah Fitri.
***
Udah dua hari gue mumed, semenjak pertama kali gue liat seorang cewe kaya bidadari jatuh dari becak kencana yang baru berangkat dari kayangan. Entah apa yang gue rasain, jatuh cinta atau mungkin di hati gue muncul cinta monyet atau gue monyetnya ?. gak ah,  gue ganteng kok, cuma agak mirip monyet. Gue masih inget ke cewe itu yang namanya fitri. Gak tau kenapa,  gue selalu  pengen ke kelas Nia. Bukan karna mau bikin pengumuman buat pramuka lagi, tapi pengen mandangin mukanya fitri yang cantik itu menurut gue, bukan muka temen gue, Nia. Kalo mandangin muka dia mah udah kenyang gue. Setiap kali gue mandangin mukanya fitri dan setiap fitri balik liat ke gue, rasanya  dada gue kaya abis ke tumbur becak berturut - turut. Setiap fitri liat ke arah gue hati gue dekdekan bro, kenceng banget... dan dari situlah gue niat pertama kalinya nembak cewe.
***
            Besoknya, gue nyusun siasat dan minta bantuan sama nia. Gue mau Nia pulang sama Fitri jalan kaki dan gue ikutin dari belakang, dan saat waktu yang tepat muncul gue tembak. Tapi nyatanya pas di tengah jalan tiba – tiba muncul anak kecil yang manggil Fitri dengan sebutan kakak, iyah pasti kalian udah tau yang manggil Fitri itu adiknya, namanya Putri. Waktu Putri nyamperin kakaknya, dia sempet liat muka gue terus waktu dia udah di samping kakaknya, dia ngomong pelan – pelan, biar gak ada yang tau dia ngomong apa. Gue tau dia ngomong apa, dia nanyain siapa yang jalan di belakang kakaknya, dan dia juga ngomong gelagat gue mencurigakan kaya penculik, emang muka gue kaya buronan apa. Siasat pertama gagal total.
            Beberapa siasat gue gagal, akhirnya gue pake siasat terakhir. Melalui Via SmS waktu ulang tahun dia. Gue awalnya Cuma bilang selamat ulang tahun, tapi merembet sampe nembak dia. Gue Cuma bialng gue suka sama dia, dan seperti peroses penembakan untuk mengubah status menjadi pacaran, gue nawarin dia buat jadi pacar gue. Dan akhirnya dia mau jadi pacar gue, “hahaha...” gue berasa kaya naik ikan lumba – lumba geda yang lucu terus di bawa terbang kelait, abis itu di jatuhin dari atas dan mendarat di tanah yang empuk seratus kali lipat di banding kasur.
***
            Semenjak gue jadian sama fitri, hp yang dulu ada di rumah Cuma buat di pake main game doang, sekarang di pake sms – san sampe jari – jari gue yang tadi kecil panjang, sekarang kaya tangan ade  ray. Yang dulu sebelum jadian gue bangun siang mulu, sekarang gue bangun pagi, biar ketemu pacar. Yang tadi biasa ngebantuin gotong royong di sekolah rasanya biasa – biasa aja, sekarang gue semanget ngangkat benda – benda berat, yang beratnya minta ampun. Tapi apa sih yang gak bisa di lakuin demi tampil hebat di depan pacar sendiri. Semuannya berjalan mulus waktu gue jadian sama fitri, tapi waktu umur jadian gue hampir sebualan, tiba – tiba....
            waktu gue lagi di rumah sore – sore nonton bola, Sriwijaya lawan persija. Gue dukung Sriwijaya dong. Pertandingan seru waktu Sriwijaya posisi nyerang, sms datang. Dari pacar gue.
Mar kaya’y sya gk bisa
Lanjutin ni semua...
Kita selesai sampe sini ja
Kita putus...
Waktu gue buka dan baca sms itu, gue gak peduli, gue tetep lanjutin nonton bola, dan akhirnya gol.....!!!Sriwijaya unggul satu kosong dari Persija. Di cetak melalui kaki keith kayamba gumb, tapi ada yang ganjil dari gol itu. Bukan karna kejebak offside, dan bukan karna pelanggaran lainnya, tapi karna sms dari Fitri. Dan gue baru sadar kalo Fitri putusin gue. Hati gue patah, gue berasa gol yang baru di cetak sama keith kayamba gumb tadi di anulir wasit. Fix bro, gue galau. Gue gak tau harus gimana, dan gue gak tau kenapa Fitri mutusin gue.
            Semenjak putus, gue jadi gak bergairah sekolah, temen – temen gue bilang turut bela sungkawa dan duka cita yang mendalam. Emang keluarga gue ada yang mati apa. Gue selalu berusaha deketin Fitri, dan minta penjelasan dia mutusin gue. Tapi gue selalu gagal.
***
Seminggu setelah putus, gue denger gosip Fitri punya pacar baru. Namanya angga, menurut gue dia gak ganteng – ganteng amat, jujur gantengan juga gue.semenjak Fitri sama Angga jadian, gue selalu liat mereka berdua, dua – duaan di depan Perpus, di kelas Fitri, di mana aja deh pokoknya gue liat, waktu gue latihan baris berbaris juga gue liat mereka berdua pacaran. Malah tambah di panasin lagi sama ade kelas gue, Selva  namanya. Orangnya cerewet, mau tau urusan orang.
“kak, liat. Masa kak Fitri berdua – duaan sama kak angga di depan kakak lagi, masa kakak gak cemburu”  sambil nunjuk ke mereka, dua anak kucing yang lagi pacaran.
“gak, biasa ajah” jawab gue santai, padahal di hati gue remuk di tambah ancur.
“ah, masa si kak, kakak gak cemburu??” nanya + ngegoda kaya evil, campur jadi kompor.
“enggak, gak cemburu” sambil nahan sakit hati.
“kak, di banding – bandingin sama kakak gantengan juga kaka” makin jadi kompor.
“gue tau gue ganteng, kata emak gue juga gue ganteng” sambil teriak ke mukanya, resep gue dari tadi di komporin melulu.
Semenjak gue tau Fitri jadian Sama Angga, gue galau abis ngelebihin kegalauan Presiden yang lagi mikirin rakyatnya lagi kena bencana alam. Pokoknya gue galau banget. Tapi kegalauan gue ilang, setelah gue denger Fitri putus sama Angga, langsung sujud syukur gue. Ada kesempatan buat gue balik ke Fitri. Gue coba deketin Fitri lagi dan pada waktu yang pas gue tembak dia lagi, gue pikir dia mau  balik lagi ke gue, kenyataanya enggak. Makin ancur hati gue yang kemaren – kemaren udah retak sekarang tambah retak berasa hati gue kaya bumi yang mau belah jadi dua. Dia beralesan, katanya kalo dia balikan sama gue gak mungkin karna gue gak akan ketemu dia lagi. Gue gak ngerti sebenernya apa yang di omongin Fitri tapi gue berusaha biar dia balik lagi sama gue, tapi hasilnya nol besar. Perasaan gue ke Fitri hampir ilang bagaikan bintang yang meredup perlahan yang terambil cahayanya.
***
Beberapa bulan kemudian, setelah kenaikan kelas gue tau apa yang di maksud Fitri, gue gak bakal ketemu dia lagi. Ternyata dia pindah sekolah, dan bener gue gak akan ketemu dia lagi. Tapi semenjak itu gue niat nungguin dia balik lagi kesini. Selama dua tahun gue nungguin dan selama dua tahun ternyata dia berhubungan jarak jauh sama Angga. Gue gak nyangka dia bisa nolak gue dan diem – diem dia pacaran lagi sama Angga,gue merasa di khianati. Gue gak nyangka kalo waktu itu  dia nolak cinta gue karna dia mau pindah, dan beralasan gue gak akan ketemu dia lagi. Tapi kenapa dia balik lagi sama Angga, dan kenapa dia nolak balik sama gue.
Dan semenjak itu gue juga coba pacaran sama yang lain, dan gue berhasil jadian sama beberapa cewe. Dan gue tetep gak bisa ngilangin perasaan gue buat Fitri,  gue juga merasa bersalah melampiaskan perasaan gue ke mereka. Gue  ngaku salah dan gue sadar apa yang gue lakuin ke meraka jauh dari benar. Pikiran gue terbuka semenjak gue nonton film yang katanya “banyak orang lakuin Move on dengan berbagai cara ada yang sibuk dengan kegiatan, rajin sholat dan lain – lain”, tapi bukan itu intinya, gue tangkep lagi omongan dari film itu, katanya” waktu kita pacaran, kita hanya fokus dengan hubungan kita aja. Dan kita melupakan mimpi – mimpi kita, dan impian kita”. Dari situ gue sadar, gue terlalu mikirin perasaan gue ke Fitri dan lupain impian gue. Dan sekarang gue mau fokus ke organisasi lagi dan bila waktunya gue jatuh cinta lagi untuk yang kedua kalinya gue akan perhitungkan lagi dan gue gak akan menjadikan cewe itu sebagai pelampiasan gue lagi.
SALAM SUPER.